Friday , July 10 2020
Home / Karakter ke-SFDan

Karakter ke-SFDan

SMP St. Maria Kabanjahe – Sekolah Berkarakter ke-SFDan

Dewasa ini, tantangan dalam bidang pendidikan sangat besar, yaitu membentuk manusia utuh melalui pengembangan seluruh potensi diri peserta didik, baik intelektualitas, emosional, sosial, spiritual, dan kinestetik. Situasi politik, sosial, dan budaya masyarakat kita semakin tidak mendukung terwujudnya idealism dan tujuan pendidikan itu. Di satu sisi, masyarakat memiliki harapan besar  melihat hasil pendidikan lembaga-lembaga pendidikan SFD terkait penampilan, pola pikir, dan berperilaku anak-anak didik dalam berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan mereka. Namun, di sisi lain, anak-anak didik hidup dalam sebuah dunia dengan aneka macam pesoalan yang pelik.

Kontribusi yang diberikan masyarakat dalam proses pendidikan anak-anak bangsa tidak seideal harapan-harapan mereka sendiri terhadap sekolah-sekolah. Setiap hari, anak-anak menyaksikan secara langsung atau melalui media massa praktik-praktik kejahatan, korupsi, ketidakjujuran, penyimpangan-penyimpangan, persaingan, ketersaingan, pertengkaran, dan keputusasaan. Setiap detik, mereka menerima informasi, entah positif atau negative, melalui gadget, media sosial, internet, televise dan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Apa yang terjadi di dunia ini dalam hitungan detik telah masuk dalam ruang kecil, yaitu otak anak-anak didik kita. Perlahan-lahan, dalam diri anak terbentuk standar moral yang memengaruhi alam piker, cara bertutur kata, merespon realitas di luar diri mereka, yang kemudian membentuk perilaku.

Saat ini, kita melihat dan mengalami hasil sebuah proses pembentukan dari lingkungan tempat mereka berinteraksi, yaitu perilaku-perilaku yang menyimpang, seperti tawuran, menyontek, menurunnya daya juang, mental cari gampang, cuek, memeras, bolos, malas dan sebagainya. Iklim sekolah juga ikut berubah karena adanya perilaku-perilaku negative ini. Tingkat kenakalan siswa menurun dan prestasi menurun karena sebagian besar anak kurang tertarik mengejar prestasi dan sulit mengarahkan focus perhatian dalam kegiatan belajar mengajar. Pemicunya , ada banyak yang menarik diluar sekolah. Sekolah lebih sering berurusan dengan pihak berwajib dan menghabiskan banyak waktu hanya untuk menyelesaikan masalah-masalah.

Berangkat dari situasi ini, tumbuh komitmen untuk melakukan perubahan atau mencegah adanya perilaku-perilaku negatif dengan menerapkan pendidikan karakter. Secara singkat, pendidikan karakter diartikan sebagai sebuah usaha untuk mendidik para peserta didik agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehati-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi positif bagi dirinya dan lingkungannya.

Memang, pendidikan karakter sesungguhnya sudah dilaksanakan pada masa-masa yang lalu. Namun, kita harus mengakui bahwa komitmen ini telah mulai tergerus dengan berbagai alasan, antara lain alokasi waktu untuk pendidikan karakter dalam kurikulum sangat kurang. Hal ini dipicu oleh banyaknya target pencapaian mata pelajaran yang lebih menekan pengetahuan (knowledge).

Kongregasi SFD bercita-cita agar melalui pendidikan karakter, kita dapat menambahkan unsur-unsur karakter posistif yang oleh Kohlberg bertujuan untuk mengisi “kantong kebijakan”. Kita ingin menginternalisasi sifat-sifat dan ciri karakter positif secara khusus yang dihayati dalam sekolah-sekolah SFD supaya menjadi sifat , prinsip, dan kontorol moral menghadapi perilaku-perilaku menyimpang yang mungkin terjadi  dalam hidup sehari-hari peserta didik. Dalam pendidikan karakter, tugas kita adalah membantu peserta didik menemukan potensi-potensi baik yang ada di dalam diri  mereka serta menumbuhkannya melalui pembiasaan ssehingga menjadi karakter peribadi meraka.

Nilai Karya Ke-SFD-an

Sekolah yang didirikan oleh suster-suster SFD dalam pengelolaan dan pembinaan sangat dipengaruhi oleh semangat dan kharisma Kongregasi. Hal itulah yang dang dimiliki dan diterapkan oleh suster-suster SFD dalam proses pendidikan. Dalam menumbuhkan  dan menghidupi spiritualitas SFD bagi seluruh mitra kerja dan anak didik, seluruh karya SFD dihidupi nilai spiritualitas SFD yang tertuang dalam tiga nilai, yaitu Semangat (S), Fraternitas (F), dan Dina (D).

  1. Semangat

Semangat berarti selalu bergembira, rajin dan giat dalam melakukan setiap karya yang ditugaskan, dengan disiplin yang tinggi dan suka cita yang besar. (Bdk. Konst Bab IV, PS KAM No. 1016)

Landasan biblis:

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya didepan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapa-Mu yang di surge. (Mat 5:16). Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku; Tuhan, Tuhan! Akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang disurga.” (Mat 7:12)

 

Melalui Nilai Ke SFD-an, terpancarlah:

  • Kegembiraan sejati (gembira, sabar dalam kesulitan)
  • Energik (tahan banting atau pantang menyerah)
  • Rajin dan giat (bertanggung jawab, bekerja keras , tekun dalam pekerjaan)
  • Disiplin (Tertib, teratur, dan taat)
  • Bersuka cita (mampu bersyukur dan berterima kasih)

 

  1. Fraternitas

Fraternitas berarti mengutamakan dan meninggikan kaum papa dan semua makhluk yang ada dengan penuh cinta kasih, ramah, bersaudara dan menjadi pembawa damai dimana pun berada (Yoh 15:12-13; Bdk. AD Fransiskan Psl 7; Konstitusi Bab II; LPJ Fransiskan ‘serikat persaudaraan’).

Landasan biblis:

Inilah perintah-Ku, supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya,” (Yoh 15:12-13)

 

Melalui sikap ini, terwujudlah nilai ke-SFD-an, yaitu:

  • Cinta kasih (menjadi penopang persaudaraan).
  • Bersaudara (saling membantu, melayani, bekerja sama, membangun dialog).
  • Mengutamakan saudara (memberi kesempatan pada yang lain).
  • Memelihara dan mencintai seluruh ciptaan ( mencintai kehidupan, solidaritas, ASRI [aman, sejuk, rapi, indah] , bersih, membiasakan menggunakan barang bekas/daur ulang).
  • Memperhatikan kaum papa ( menolong, peduli, empati).
  • Ramah tamah ( senyum, sapa, salam, sopan santun,, sentuh).
  • Membawa damai (adil/tidak memihak, mengutamakan kebersamaan dan persatuan, tidak membesar-besarkan masalah, menciptakan suasana harmonis).
  • Toleransi ( menghormati, menerima dan terbuka pada perbedaan suku, agama, dan golongan).

 

  1. Dina

Dina berarti dengan semangat doa dan pertobatan yang terus-menerus menumbuhkan sifat sederhana, rendah hati, tulus, bermati raga, rela berkorban serta tanpa pamrih. (Yoh 3:30; Filipi 2:4-8; bdk. Konstitusi Bab III; MA No. 72 ‘Jiwaku muliakan Tuhan’

Landasan biblis:

“Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil” (Yoh 3:30).

Santo Paulus mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menanggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.” (Flp 2:5-7)

Melalui nilai ini, tertanamlah sifat ke-SFD-an , yaitu:

  • Pendoa/rekolek (mengandalkan Tuhan/percaya pada Penyelenggaraan ilahi).
  • Pertobatan/penitent (pembaharuan diri secara terus-menerus)
  • Sederhana (Ugahari)
  • Kerendahan hati (Tidak sombong/ menerima semua orang apa adanya).
  • Matiraga (Berani berkata cukup/ memenuhi yang dibutuhkan saja/ meminta maaf).
  • Tulus (tidak bersandiwara, tidak ada “udang di balik batu”).
  • Rela berkorban (murah hati, memberikan waktu dan tenaga, mengalahkan diri sendiri).
  • Tanpa pamrih (tidak mengharapkan imbalan, ikhlas).
  • Jujur ( berkata benar, transparan).
  • Berani menjadi yang kecil (melakukan pekerjaan yang sederhana).
  • Lepas bebas ( tidak terikat pada tempat, jabatan, relasi, benda)
  • Tekun dan setia (tidak mudah terpengaruh, bertahan dalam kesulitan/tangguh).

Nilai-nilai di atas sesungguhnya sejak dahulu sudah diterapkan oleh pendahulu dalam proses pendidikan. Namun, nilai-nilai itu belum tertulis dan tertuang dalam sebuah buku pedoman. Inspirasinya berasal dari spriritualitas Kongregasi SFD yang sudah dihidupi  selama hamper dua abad. Bentuknya adalah melalui pemberian informasi, latihan dan pembiasaan sehari-hari dalam seluruh proses pendidikan, mulai dari saat peserta didik hadir di sekolah higga saat mereka pulang.

Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk menghidupkan kembali pendekatan ini, baik secara pribadi  maupun institusi, supaya kita generasi-generasi baru ini , memiliki semangat dan pendekatan yang sama yang dapat menjadi buday akhas dalam pendidikan SFD. Pendidikan karakter berdasarkan Spritualitas Kongregasi SFD menjadi gerakan bersama seluruh komponen pendidikan dalam lingkup Yayasan di bawah kongregasi SFD. Dengan cara ini , kita ikut ambil bagian dalam proses revolusi mental rakyat Indonesia, yang dimulai  dari lingkup kecil di Yayasan binaan Kongregasi SFD.